BUOL — Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Buol resmi menetapkan 22 cabang olahraga (cabor) yang akan diikutsertakan pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) X Sulawesi Tengah tahun 2026 di Morowali.
Keputusan tersebut diambil melalui serangkaian pertimbangan strategis dengan mengacu pada rekam jejak prestasi masing-masing cabang olahraga, maupun capaian prestasi dalam beberapa tahun terakhir.
Adapun 22 cabang olahraga yang dipastikan mewakili Kabupaten Buol meliputi Taekwondo, Gateball, Pencak Silat, Sepak Takraw, Dayung, Bola Voli, Biliar, Sepak Bola, Petanque, Menembak, Tinju, Panjat Tebing, Futsal, Tenis Meja, Atletik, Kick Boxing, Paralayang, Balap Motor, Karate, Catur, Bulutangkis, dan Bola Basket.
Ketua Umum KONI Buol, Risharyudi Triwibowo, menegaskan bahwa penetapan ini tidak hanya berdasarkan jumlah cabang olahraga, melainkan lebih menitikberatkan pada potensi perolehan medali. Selain itu, kondisi efisiensi anggaran yang tengah diterapkan secara nasional juga menjadi faktor penting dalam menentukan prioritas.
“Cabor yang dipilih adalah yang memiliki peluang nyata untuk berprestasi. Ini bagian dari strategi agar Buol bisa bersaing secara efektif,” ujarnya.
Ia juga menargetkan Kabupaten Buol mampu menembus lima besar pada Porprov Sulteng 2026. Untuk itu, seluruh pengurus cabang olahraga yang telah ditetapkan diminta menunjukkan komitmen serius dalam mempersiapkan atlet, mulai dari proses seleksi, pemusatan latihan, hingga peningkatan kualitas teknik dan mental bertanding.
Menurutnya, keberhasilan di ajang Porprov tidak hanya ditentukan oleh kemampuan atlet semata, tetapi juga kerja sama, disiplin, dan konsistensi seluruh pihak yang terlibat dalam pembinaan olahraga daerah.
Penetapan ini menjadi langkah awal bagi KONI Buol dalam menyusun strategi pembinaan yang lebih terarah dan terukur. Dengan persiapan yang matang serta dukungan semua pihak, diharapkan kontingen Buol mampu membawa pulang hasil maksimal dan meningkatkan posisi daerah dalam peta olahraga Sulawesi Tengah.
Keberhasilan target yang dicanangkan tidak hanya menjadi tanggung jawab atlet dan pelatih, tetapi juga membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, pengurus olahraga, dan masyarakat, guna menciptakan ekosistem pembinaan yang berkelanjutan dan berorientasi pada prestasi.***